Thursday, January 23, 2014

ASKEP GASTROENTERITIS (GE)

BAB I
KONSEP DASAR

A.    Pengertian

Gastroenteritis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya muntah dan diare yang diakibatkan oleh infeksi, alergi, tidak toleran terhadap makanan tertentu atau mencerna toksin (Tucker, dkk, 1998: 958). Pendapat lain dikemukakan oleh Daldiyono (1997: 21) bahwa diare diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dengan kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya. Dalam keadaan biasa kandungan air berjumlah sebanyak 100 ml-200 ml per jam tinja. Pendapat senada dikemukakan oleh Soeparman, dkk (2001: 91) bahwa diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar, konsistensi faeces menjadi cair, dan perut terasa mules ingin buang air besar. Dari beberapa pendapat diatas, dapat dikemukakan bahwa diare atau gastroenteritis adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari, dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja yang diakibatkan oleh infeksi, alergi tidak toleran terhadap makanan tertentu atau mencerna toksin sehingga menyebabkan hiperperistaltik yang mengakibatkan resorbsi air dalam usus besar terganggu dan akhirnya menyebabkan frekuensi buang air besar melebih normal.









B.     Penyebab

Penyebab diare, pada 25 tahun yang lalu sebagian besar belum diketahui, akan tetapi kini telah lebih dari 80 % penyebabnya telah diketahui. Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada bayi dan anak. Penyebab ini dapat digolongkan lagi kedalam penyakit yang ditimbulkan adanya virus, bakteri, dan parasit usus (Irwanto, dkk, 2002: 75). Menurut Noerasid, dkk (1999: 52) ditinjau dari sudut patofisiologi,  penyebab diare akut dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu:

1.      Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:

a.       Infeksi virus, kuman-kuman patogen, dan apatogen.

b.      Hiperperistaltik usus halus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia, makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalu asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan syaraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.

c.       Defisiensi imun terutama SIgA (secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan berlipatgandanya bakteri/ flora usus dan jamur, terutama candida.

2.      Diare osmotik (osmotic diarrhoea), disebabkan oleh:


a.       Malabsorbsi

b.      KKP (kekurangan kalori protein).

c.       BBLR (bayi berat badan lahir rendah) dan bayi baru lahir.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Ryle dan Bockus (cit.Hadi, 1999: 44) membagi penyebab diare sebagai berikut:

1.      Diare karena kelainan pada saluran makanan:

a.       Kelainan dilambung atau gastroenterogenous, dapat disebabkan oleh akilia gastrika, tumor, pasca gastrektomi, vagotomi.

b.      Kelainan di usus halus atau enterogenous, dapat disebabkan oleh enteritis regional, pasca bedah, gangguan absorbsi, fistula intestinal obstruksi intertial partial, divertikulosis dan tumor.

c.       Kelainan di usus besar, dapat disebabkan oleh kolitis ulserosa kronis, tumor, divertikulosis, poliposis, kolitis pasca iradiasi, obstruksi kolon parsial dan endometriosis.

2.      Diare karena penyakit infeksi:

a.       Infeksi parasit antara lain: amuba, balantidium coli, dan lain-lain.

b.      Infeksi bakteri: shigella, salmonella, escheria coli, clostridium, tuberkulosis, dan lain-lain.

c.       Infeksi virus : rotavirus, astrovirus, calcivirus, corona virus, dan lain-lain.

d.      Infeksi jamur misalnya monilia.

3.      Kelainan diluar saluran makanan:

a.       Penyakit di pankreas

b.      Kelainan endokrin

c.       Kelainan hepatobilier.

d.      Penyakit kolagen

e.       Uremia.

f.       Tuberculosis paru.

g.      Penyakit neurologis.

h.      Akibat keracunan makanan.

i.        Akibat pemberian antibiotika

 



C.    Fokus Pengkajian

Menurut Doenges, dkk (2000: 1039) fokus pengkajian yang didapatkan pada klien dengan masalah hipovolemi adalah sebagai berikut:

1.      Aktivitas dan istirahat

Gejala    : kelelahan, dan kelemahan umum.

2.      Sirkulasi

Tanda    : hipotensi, termasuk perubahan posturnal.

                Nadi lemah, takikardi.

                Vena leher datar, penurunan central vena pressure.

3.      Eliminasi

Gejala    : diare, kram perut

Tanda    : penurunan volume urine, warna gelap atau pekat, oliguri (kekurangan cairan berat)

4.      Makanan dan cairan   

Gejala    : haus, anoreksia, mual dan muntah.

Tanda    : penurunan berat badan sering melebihi 2 % - 8% dari berat badan total.

                Distensi abdomen.

                Membran mukosa kering, lidah kotor, penurunan air mata dan salivasi.

                Kulit kering dengan turgor buruk, pucat, lembab dan dingin (syok).

5.      Neurosensori

Gejala    : Kesemutan ekstremitas, vertigo dan sinkope.

Tanda    : Perubahan perilaku, apatis, gelisah, dan kacau mental.

6.      Pernapasan

Tanda    : Takipnea, pernapasan cepat dan dangkal.

7.      Keamanan

Tanda    : Suhu biasanya sub normal meskipun demam mungkin terjadi.

8.      Pemeriksaan diagnostik

Natrium serum:  Mungkin normal, tinggi atau rendah.

Natrium urine: biasanya menurun (kurang dari 10 mEq/ l bila kehilangan karena penyebab eksternal, biasanya lebih besar dari 20 mEq/ l bila penyebab adalah renal atau adrenal).

Jumlah darah lengkap : Haemoglobin, hematokrit dan sel darah merah biasanya meningkat (hemokonsentrasi). Penurunan menunjukkan hemoragi.

Glukosa serum: normal atau meningkat.

Protein serum: meningkat.

Blood urea nitrogen: meningkat.

Berat jenis urine: meningkat.

D.    Fokus intervensi

Menurut Wong’s, dkk (2001: 890) rencana asuhan keperawatan pada gastroenteritis adalah sebagai berikut:

A.    Fokus Intervensi

  1. Defisit volume cairan berhubungan dengan pengeluaran melewati gastrointestinal (buang air besar dan muntah) yang berlebihan
Kriteria Tujuan:
Klien mampu memperlihatkan tanda-tanda rehidrasi dan pemeliharaan hidrasi yang adekuat
Intervensi :
a.       Berikan Oral Rehidrasi Solution untuk rehidrasi dan pengambalian kehilangan (buang air besar).
b.      Berikan dan monitor pemberian cairan intravena.
c.       Berikan obat antimikroba sesuai advice
d.      Berikan pengganti Oral Rehidrasi Solution dengan cairan rendah sodium seperti air, ASI, atau susu formula (rendah laktosa).
e.       Berikan makanan sehari-hari sesuai toleransi.
f.       Observasi intake dan out put (urine faeces dan muntah).
g.      Monitor pengeluaran urine setiap delapan jam atau sesuai indikasi.
h.      Timbang berat badan setiap hari.
i.        Kaji tanda-tanda vital, turgor kulit, membran mukosa dan status mental tiap empat jam atau sesuai indikasi.
j.        Hindari masukan cairan jernih seperti jus buah dan minuman berkarbonat.
k.      Anjurkan keluarga berpartisipasi dalam memonitor intake dan output serta mengkaji tanda dehidrasi. 
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kehilangan melalui diare dan intake yang tidak adekuat.
Kriteria tujuan:
Klien akan memperlihatkan konsumsi makanan yang adekuat dan mempertahankan berat badan sesuai umur.
Intervensi:
a.       Instruksikan untuk terus menerus memberi ASI bagi anak yang masih menyusu.
b.      Hindari pemberian diit BRAT (Banana, Rice, Apple, and Toast Or Tea)
c.       Observasi respon terhadap makanan yang diberikan.
d.      Instruksikan keluarga untuk menyediakan diit yang tepat.
e.       Selidiki anggota keluarga terdekat yang dapat membantu pelaksanaan regimen therapeutik.
  1. Risiko penularan infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menginvasi saluran gastrointestinal.
Kriteria tujuan:
Klien tidak memperlihatkan tanda-tanda infeksi gastrointestinal.
Intervensi:
a.       Lakukan tindakan pencegahan infeksi sesuai standar kebiasaan rumah sakit.
b.      Pertahankan kebiasaan cuci tangan.
c.       Gunakan popok yang nyaman dan bersih.
d.      Gunakan popok disposible yang mempunyai daya serap.
e.       Lindungi bayi dan anak kecil dari tempat yang terkontaminasi.
f.       Ajarkan aturan pencegahan yang mungkin pada anak.
g.      Instruksikan anggota keluarga dan pengunjung untuk melakukan pencegahan terutama melakukan cuci tangan.
  1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi sekunder terhadap seringnya buang air besar.
Kriteria tujuan:
Integritas kulit utuh.
Intervensi:
a.       Ganti popok setiap basah atau setiap habis buang air besar.
b.      Bersihkan pantat dengan kapas lembut sabun non alkali dan air.
c.       Gunakan salep seperti zinc oxide.
d.      Hindari pengguanaan tissue basah yang mengandung alkhohol.
e.       Observasi bokong dan perineum dari infeksi seperti candida.
f.       Berikan salep antifungi bila perlu. 
  1. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang proses penyakit.
Kriteria tujuan:
Keluarga memperlihatkan tanda kenyamanan.
Intervensi:
a.       Berikan perawatan mulut dan tenangkan bayi.
b.      Beri semangat atau dorong keluarga untuk berkunjung dan  berpartisipasi didalam perawatan yang sama porsinya dengan kemampuan keluarga.
c.       Sentuh, genggam dan bicarakan tentang stres anak.
d.      Berikan stimulasi sensori dan pengalihan hiburan yang cocok terhadap tingkat perkembangan anak dan kondisinya.
  1. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan situasi krisis dan kurang pengetahuan
Kriteria tujuan:
Keluarga akan mengerti tentang penyakit anaknya dan dapat melakukan perawatan.
Intevensi:
a.       Berikan informasi kepada keluarga tentang penyakit dan tindakan pengobatan.
b.      Bantu keluarga dalam memberikan rasa nyaman dan support pada anak.
c.       Libatkan anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan seperti yang mereka inginkan.
d.      Ajarkan keluarga mengenai tindakan pencegahan.
e.       Atur pelayanan kesehatan post hospitalisasi.

f.       Rujuk keluarga pada unit pelayanan kesehatan masyarakat. 

No comments:

Post a Comment