Thursday, January 23, 2014

ASKEP GIGANTISME (TUMBUH RAKSASA)

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian

Gegantisme adalah suatu keadaan  yang abnormal pada anak yang disebabkan oleh produksi GH yang berlebihan.

B.    Etiologi

Tumor hipofise : adenoma eosinofilik

C.    Manifestasi klinik

§       Lingkar kepala bertambah
§       Hidung lebar
§       Lidah membesar
§       Wajah kasar
§       Mandibula tumbuh berlebihan
§       Gigi menjadi terpisah-pisah
§       Jari dan ibu jari tumbuh menebal
§       Kifosis
§       Kelelehan dan kelemahan gejala awal
§       Hipogonadisme
§       Keterlambatan maturasi seksual
§  Kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang secara seksama

D.   Pemeriksaan penunjang

§       Laboratorium

-          Kadar GH berlebihan mencapai 400 ng/ml
-          Tes toleransi glukosa : hiperglikemia
-          Kadar somatomidin meningkat 2,6-21,7 U/ml ( 0,31-1,4 U/ml)
§       CT. Scan
§       MRI

E.     Penatalaksanaan

§  Intervensi bedah dilakukan apabila terjadi peningkatan tekanan intra kranial
§  Radiasi konvensional / sinar proton energi tinggi apabila papil edema dan penyempitan lapang pandang


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GEGANTISME

I.        Pengkajian
ð  Riwayat penyakit dahulu ?
ð  Riwayat penyakit sekarang ?
ð  Riwayat penyakit keluarga ?
ð  Riwayat tumbuh kembang ?
ð  Apakah klien mengalami penambahan pada lingkar kepala
ð  Apakah klien mengalami pembesaran hidung ?
ð  Apakah klien mengalami pembesaran hidung ?
ð  Apakah mandibula tumbuh berlebihan ?
ð  Apakah klien mengalami  gigi yang terpisah-pisah
ð  Apakah  jari dan ibu jari tumbuh menebal ?
ð          Apakah klien mengalami kifosis ?
ð  Apakah klien mengalami kelelahan dan kelemahan pada gejala awal ?
ð          Apakah klien mengalami hipogonadisme ?
ð          Apakah kien mengalami keterlambatan maturasi seksual ?
ð          Apakah terjadi tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial ?
ð  Apakah klien mengalami kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang ?

II.     Diagnosa keperawatan
1.                             Gangguan bodi image b.d perubahan struktur tubuh
Tujuan : tidak terjadi penurunan bodi image pada klien
Kriteria :
-          Klien dapat menerima perubahan diri
-          Klien mau bersosialisasi dengan lingkungan
Intervensi :
·         Pertahankan lingkungan yang kondusif untuk membicarakan perubahan citra tubuh
·         Diskusikan perasaan yang berhubungan dengan perubahan yang dialami oleh klien
·         Kaji klien dengan mengidentifikasi dan mengembangkan mekanisme koping untuk mengatasi perubahan fisik
·         Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan yang berhubungan dengan perubahan fisik
·         Bantu klien dalam mengembangkan mekanisme koping untuk mengatasi perubahan fisik
·         Bantu pasien dalam mengembangkan rencana untuk menyelaraskan semua perubahan ke dalam gaya hidup
·         Berikan penekanan perilaku yang memperlihatkan penerimam terhadap perubahan
2.       Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolisme, lidah membesar, mandibula tumbuh berlebih, gigi menjadi terpisah-pisah.
Tujuan : nutrisi klien adekuat
Kriteria :
-         Klien tidak mengalami penurunan berat badan yang berarti
-         Nafsu makan klien meningkat
Intervensi :
·          Beri makan sedikit tapi sering (termasuk cairan)
·          Masukkan makanan kesukaan dalam diet
·          Anjurkan untuk makan sendiri, bila mungkin (kelemahan otot dapat membuat keterbatasan)
·          Memilih makanan dari daftar menu
·          Atur makanan secara menarik diatas nampan
·          Atur jadwal pemberian makanan
·          Berikan makanan yang bergizi tinggi dan berkualitas
3.       Perubahan proses keluarga b.d keluarga dengan gegantisme
Tujuan :
-             Mempersiapkan keluarga untuk dapat merawat anggota dengan gegantisme
-           Keluarga dapat beradaptasi dengan penyakitnya
Kriteria : Keluarga dapat mengatasi masalah yang timbul dari adanya tanda dan gejala yang muncul dan memberikan  atau menyediakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi klien
Intervensi :
·        Berikan dukungan emosional pada keluarga dan klien
·        Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaannya
·        Anjurkan klien untuk berbagi rasa tidak berdaya, malu, ketakutan yang berkaitan dengan manifestasi penyakit.
·        Bertindak sebagai pembela dan penghubung klien dan keluarga dengan anggota tim perawatan kesehatan lainnya
·        Anjurkan klien untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
·        Dorong keterlibatan klien dalam aktivitas rekreasi dan aktivitas pengalih yang sesuai dengan usia.

4.       Kelelahan b.d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
Tujuan : menunjukkan perbaikan kemampuan berpartisipasi dalam melakukan aktifitas
Kriteria :
-          Tidak terjadi kelelahan yang berarti pada klien setelah melakukan aktivitas
-          Klien tidak merasa malas saat akan melakukan aktivitas
Intervensi :
·         Kaji tanda-tanda vital
·         Ciptakan lingkungan yang tenang : ruangan yang dingin, turunkan stimulasi sensori
·         Sarankan klien untuk mengurangi aktivitas dan meningkatkan istirahat di tempat tidur
·         Berikan tindakan yang membuat klien nyaman; sentuhan, masage.
·         Memberikan aktivitas pengganti yang menyenagkan dan tenang; membaca, mendengarkan radio dan menonton televisi

·         Berikan obat sesuai indikasi; sedatif (fenobarbital )

Pathway

readmore...

ASKEP GEGANTISME

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GEGANTISME

A.    Pengertian

Gegantisme adalah suatu keadaan  yang abnormal pada anak yang disebabkan oleh produksi GH yang berlebihan.

B.    Etiologi

Tumor hipofise : adenoma eosinofilik

C.    Manifestasi klinik

§       Lingkar kepala bertambah
§       Hidung lebar
§       Lidah membesar
§       Wajah kasar
§       Mandibula tumbuh berlebihan
§       Gigi menjadi terpisah-pisah
§       Jari dan ibu jari tumbuh menebal
§       Kifosis
§       Kelelehan dan kelemahan gejala awal
§       Hipogonadisme
§       Keterlambatan maturasi seksual
§  Kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang secara seksama

D.   Pemeriksaan penunjang

§       Laboratorium

-          Kadar GH berlebihan
-          Tes toleransi glukosa : hiperglikemia
-          Kadar somatomidin meningkat 
§       CT. Scan
§       MRI

E.        Penatalaksanaan

§  Intervensi bedah
§  Radiasi konvensional / sinar proton energi tinggi



Pengkajian
ð  Riwayat penyakit dahulu ?
ð  Riwayat penyakit sekarang ?
ð  Riwayat penyakit keluarga ?
ð  Riwayat tumbuh kembang ?
ð  Apakah klien mengalami penambahan pada lingkar kepala
ð  Apakah klien mengalami pembesaran hidung ?
ð  Apakah klien mengalami pembesaran hidung ?
ð  Apakah mandibula tumbuh berlebihan ?
ð  Apakah klien mengalami  gigi yang terpisah-pisah
ð  Apakah  jari dan ibu jari tumbuh menebal ?
ð          Apakah klien mengalami kifosis ?
ð  Apakah klien mengalami kelelahan dan kelemahan pada gejala awal ?
ð          Apakah klien mengalami hipogonadisme ?
ð  Apakah kien mengalami keterlambatan maturasi seksual ?
ð  Apakah terjadi tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial ?
ð  Apakah klien mengalami kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang ?
Diagnosa keperawatan
1.       Gangguan bodi image b.d perubahan struktur tubuh
2.       Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolisme, lidah membesar, mandibula tumbuh berlebih, gigi menjadi terpisah-pisah.
3.       Perubahan proses keluarga b.d keluarga dengan gegantisme

4.       Kelelahan b.d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
readmore...

ASKEP GE TROPIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS GE


Pengertian
A        Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 - 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).
A        Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.

Etiologi
A         Penyebab utama :
 Bakteri, parasit maupun virus (E. Coli, V. Cholerae Ogawa, Aeromonas sp.).
Penyebab lain ; toksin dan obat, nutrisi enteral diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kondisi lain.

       Menurut Mansjoer, Arief., et all. (1999) dibagi menjadi :

Konsep Pengkajian
a.      Identitas klien :
A      Umur
Sering terjadi pada terutama usia 6 bulan sampai 2 tahun (WHO, 1995).
b.      Keluhan Utama
Dimulai dengan keluhan mual, muntah dan diare dengan volume yang banyak, suhu badan meningkat, nyeri perut
c.      Riwayat penyakit
Terdapat beberapa keluhan, permulaan mendadak disertai dengan muntah dan diare. Faeces dengan volume yang banyak, konsistensi cair, muntah ringan atau sering dan anak gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat dan nafsu makan menurun.
c.      Pola aktivitas sehari-hari
A        Nutrisi
Makan menurun karena adanya mual dan muntah yang disebabkan lambung yang meradang.
A        Istirahat tidur
Mengalami gangguan karena adanya muntah dan diare serta dapat juga disebabkan demam.
A        Kebersihan
Personal hygiene mengalami gangguan karena seringnya mencret dan kurangnya menjaga personal hygiene sehingga terjadi gangguan integritas kulit. Hal ini disebabkan karena faeces yang mengandung alkali dan berisi enzim dimana memudahkan terjadi iritasi ketika dengan kulit berwarna kemerahan, lecet disekitar anus.
A        Eliminasi
Pada BAB juga mengalami gangguan karena terjadi peningkatan frekuensi, dimana konsistensi lunak sampai cair, volume tinja dapat sedikit atau banyak. Dan pada buang air kecil mengalami penurunan frekuensi dari biasanya.
d.      Pemeriksaan fisik.
A        Tanda-tanda vital
Terjadi peningkatan suhu tubuh, dan disertai ada atau tidak ada peningkatan nadi , pernapasan.
A         Bila terjadi kekurangan cairan didapatkan :
 Haus
                   Lidah kering
Tulang pipi menonjol
Turgor kulit menurun
Suara menjadi serak
A         Bila terjadi gangguan biokimia :
Asidosis metabolik
Napas cepat/dalam (kusmaul)
A         Bila banyak kekurangan kalium
Aritmia jantung




A         Bila syok hipovolumik berat
Nadi cepat lebih 120 x/menit
Tekanan darah menurun sampai dari tak terukur.
Pasien gelisah.
Muka pucat
Ujung-ujung ektremitas dingin
Sianosis
A         Bila perfusi ginjal menurun
Anuria
Nekrosis tubular akut.
                                                          (Mansjoer, Arif., et all. 1999).
e.      Pemeriksaan Penunjang
A        Pemeriksaan tinja
Diperiksa dalam hal volume, warna dan konsistensinya serta diteliti adanya mukus darah dan leukosit. Pada umumnya leukosit tidak dapat ditemukan jika diare berhubungan dnegan penyakit usus halus. Tetapi ditemukan pada penderita Salmonella, E. Coli, Enterovirus dan Shigelosis. Terdapatnya mukus yang berlebihan dalam tinja menunjukkan kemungkinan adanya keradangan kolon. PH tinja yang rendah menunjukkan adanya malabsorbsi HA, jika kadar glukosa tinja rendah / PH kurang dari 5,5 maka penyebab diare bersifat tidak menular.
A        Pemeriksaan darah
Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan berat jenis plasma.
Penurunan PH darah disebabkan karena terjadi penurunan bikarbonas sehingga frekuensi nafas agak cepat.
                  Elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor .

Penatalaksanaan
1.      Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.
a.      Jenis cairan
Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan RL, bila tak tersedia dapat diberikan NaCl isotonik ditambah satu ampul Na bikarbonat 7,5 % 50 ml.



b.      Jumlah cairan
Diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan.
Kehilangan cairan tubuh dapat dihitung dengan beberapa cara :

 Metoda Pierce :
Derajat Dehidrasi
Kebutuhan cairan ( X kg BB)
Ringan
Sedang
Berat
5 %
8 %
10 %

c.      Jalan masuk atau cara pemberian cairan
Dapat dipilih oral atau IV.
d.      Jadwal pemberian cairan
Rehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya dilakukan penilaian kembali status hidrasi untuk memperhitungkan kebutuhan cairan. Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke-3.
e.      Terapi simtomatik
Obat diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan yang rasional.
A        Sifat antimotilitas dan sekresi usus.
A        Sifat antiemetik.
f.          Vitamin meneral, tergantung kebutuhannya.
A        Vitamin B12, asam folat, vit. K, vit. A.
A        Preparat besi , zinc, dll.
g.         Terapi definitif
Pemberian edukatif sebagailangkah pencegahan. Hiegene perseorangan, sanitasi lingkungan, dan imunisasi melalui vaksinasi sangat berarti, selain terapi farmakologi.

Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap muntah dan diare.

2.      Perubahan kenyamanan berhubungan dengan kram abdomen, diare dan muntah sekunder akibat dilatasi vaskuler dan hiperperistaltik.
3.      Risiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik yang berhubungan dnegan kurang pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet, dan tanda-tanda serta gejala komplikasi.


Perencanaan
Diagnosa No. 1
A        Tujuan :
Kebutuhan volume cairan adekuat.
A        Kriteria hasil : Individu akan
A        Meningkatkan masukan cairan minimal 2000 ml (kecuali bila merupakan kontraindikasi).
A        Menceritakan perlunya untuk meningkatkan masukan cairan selama stress atau panas.
A        Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal (1,010 & 1,025).
A        Memperhatikan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi.

Intervensi general :
1.      Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian ( misal 1000 ml selama siang hari, 800 ml selama sore hari, 300 ml selama malam hari).
R/ Deteksi dini memungkinkan terapi penggantian cairan segera untuk memperbaiki defisit.
2.      Jelaskan tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat dan metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan cairan.
R/ Informasi yang jelas akan meningkatkan kerjasama klien untuk terapi.
3.      Pantau masukan , pastikan sedikitnya 1500 ml cairan per oral setiap 24 jam.
R/ Catatan masukan membantu mendeteksi tanda dini ketidak seimbangan cairan.
4.      Pantau haluaran, pastikan sedikitnya 1000 - 1500 ml/24 jam. Pantau terhadap penurunan berat jenis urine.
R/ Catatan haluaran membantu mendeteksi tanda dini ketidak seimbangan cairan.
5.      Timbang BB setip hari dengan jenis baju yang sama, pada waktu yang sama. Kehilangan berat badan 2 - 4 % menunjukkan dehidrasi ringan. Kehilangan berat badan 5 - 9 % menunjukkan dehidrasi sedang.
R/ Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilanagan cairan.
6.      Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah, diare, demam, drain.
R/ Haluaran dapat melebihi masukan, yang sebelumnya sudah tidak mencukupi untuk mengkompensasi kehilangan yang tak kasap mata. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus, membuat haluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme dengan baik dan mengarah pada peningkatan BUN dan kadar elektrolit.
7.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kadar elektrolit darah, nitrogen ure darah, urine dan serum, osmolalitas, kreatinin, hematokrit dan hemoglobin.
R/ Propulsi feses yang cepat melalui usus mengurangi absorpsi elektrolit. Muntah-muntah juga menyebabkan kehilangan elektrolit.
8.      Kolaborasi dengan pemberian cairan secara intravena.
R/ Memungkinkan terapi penggantian cairan segera untuk memperbaiki defisit.


Diagnosa No.2
A       Tujuan : Klien merasa nyaman.
A       Kriteria hasil  : Klien akan :
A         Melaporkan penurunan kram abdomen.
A         Menyebutkan makanan yang harus dihindari.

Intervensi :
1.      Dorong klien untuk berbaring dalam posisi terlentang dnegan bantalan penghangat di atas abdomen.
R/ Tindakan ini meningkatkan relaksasi otot GI dan mengurangi kram.
2.      Singkirkan pemadangan yang tidak menyenangkan dan bau yang tidak sedap dari lingkungan klien.

R/ Pemandangan yang tidak menyenangkan atau bau tak sedap merangsang pusat muntah.
3.      Dorong masukan jumlah kecil dan sering dari cairan jernih  (misal; teh encer, air jahe, agar-agar, air) 30 sampai 60 ml tiap 1/2 sampai 1 jam.
R/ Cairan dalam jumlah yang kecil cairan tidak akan mendesak area gastrik dan dengan demikian tidak memperberat gejala.
4.      Instruksikan klien untuk menghindari hal ini :
a.      Cairan yang panas dan dingin.
b.      Maknan yang mengandung lemak dan serat (misal ; susu, buah)
c.      Kafein.
R/ cairan yang dingin merangsang kram ; cairan panas menrangsang peristaltik ; Lemak juga meningkatkan peristaltik dan kafein meningkatkan motilitas usus.
5.      Lindungi area perianal dari iritasi.
R/ Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal.

Diagnosa No. 3
A         Tujuan : Pengetahuan klien tentang kondisi, pembatasan diet, dan tanda-tanda serta gejala komplikasi adekuat.
A         Kriteria hasil :
A         Klien dapat menjelaskan kembali  kepada perawat setelah penjelasan dari perawat.

Intervensi :
1.      Jelaskan pembatasan diet :
a.      Makanan tinggi serat (sekam & buah segar).
b.      Makanan tinggi lemak ( susu, makanan goreng).
c.      Air yang sangat panas atau dingin.
R/ Makann ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.
2.      Jelaskan pentingnya mempertahankan kesimbangan antara masukan cairan oral dan haluaran cairan.
R/  Muntah dan diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi.
3.      Jelaskan manfaat istirahat dan dorong untuk istirahat adekuat.

R/ Inaktivitas menurunkan peristaltik dan memungkinkan salurang GI untuk istirahat.
4.      Instruksikan untuk mencuci tangan dan :
a.      Desinfeksi area permukaan dengan desinfektan yang mengandung tinggi alkohol.
b.      Rendam peralatan makan dan termometer dalam larutan alkohol atau gunakan alat pencuci piring untuk peralatan makan.
c.      Tidak mengijinkan menggunkan bersama alat-alat dengan orang sakit.
R/ Penyebaran virus dapat dikontrol dengan desinfeksi area permukaan area (kamar tidur) dan peralatan makan. Desinfeksi dengan kandungan alkohol rendah tak efektif melawan beberapa virus.
5.      Ajarkan klien dan keluarga untuk melaporkan gejala ini :
a.      Urine coklat gelap menetap selama lebih dari 12 jam.
b.      Feses berdarah.
     R/ Deteksi dini dan pelaporan tanda dehidrasi memungkinkan intervensi segera untuk mencegah ketidakseimbangan cairan atau elektrolit serius.


Daftar Pustaka


Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarata : EGC
                           (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarata : EGC
Makalah Kuliah . Tidak diterbitkan.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.
Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak. Surabaya : GRAMIK FK Universitas Airlangga.
Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I. Jakarata : EGC.
readmore...